Slide # 1

Slide # 2

Slide # 3

Slide # 4

Slide # 5

Slide # 6

Selasa, 23 Februari 2016

Cerita Asal Muasal Sabang dan Pulau Weh

Tentunya Anda tak asing dengan lagu berjudul "Dari Sabang Sampai Merauke" karangan R. Suharjo yang merupakan salah satu lagu nasional. Namun, pernahkah Anda mencari tahu mengenai Sabang itu sendiri? Berikut kami berikan sedikit informasi tentang asal muaal Sabang.
Nama Sabang sendiri, berasal dari bahasa Aceh ”Saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa arab, yaitu “Shabag” yang artinya gunung meletus. Dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.
Singkat cerita tentang legenda Sabang, menurut sebuah legenda menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.
Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut. Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.
Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.
Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa Aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, yakni penyatuan daratan sabang dengan daratan Ulee Lheue.
Ulee Lheue di Banda Aceh berasal dari kata Ulee Lheueh (“Lheueh”; yang terlepas). Syahdan, bahwa letusan Gunung berapilah yang menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus. Dalam Versi lain, Pulau Weh juga terkenal dengan pulau “We” tanpa h. Ada yang berasumsi jika pulau weh diberi nama pulau “we” karena bentuknya seperti huruf “W”.
Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun.
Sabang juga kaya akan peninggalan sejarah, sehingga Sabang sering disebut sebagai Pulau Seribu Benteng . Pada saat masa kolonial penjajahan Jepang mulai pada saat terjadi perang Dunia ke II , mereka mulai membangun benteng – benteng pertahanan di pulau ini , sehingga ketika sering menjumpainya ketika sedang melakukan perjalanan di pulau ini . Selain pulau peninggalan sejarah lainnya yaitu berupa Komplek Makam Belanda , Makam – makam  keramat yang tersebar di daratan Pulau Sabang , dan juga meriam – meriam peninggalan para Kolonial.
Di samping itu, jika Anda berkesempatan mengunjungi Sabang, Anda juga dapat menikmati keindahan bawah lautnya yang menakjubkan. Plus berwisata kuliner dan membeli beberapa suvenir khas untuk dibawa pulang.
Ayo ke Sabang!
ee
http://assets.kompas.com
rr
bpks.go.id
e
http://farm8.staticflickr.com
source: faktaguide

0 komentar:

Posting Komentar