Slide # 1

Slide # 2

Slide # 3

Slide # 4

Slide # 5

Slide # 6

Selasa, 23 Februari 2016

A First Look at Sabang History


"The More You Know about The Past, The Better You Know about The Future"
A quote by T. Rooselvelt and it is also supported by the quote from Robert Penn Warren is a reminder for people in Sabang and the government to learn about the past and keep moving forward to the future.
This is the historical archives of Sabang. With a long history of being a harbor for the people who travel from North to the South. A First Look at Sabang's Marine History.
After the opening of the Suez Canal in 1869, the Indonesian archipelago was no longer approached from the south, via the Sunda Strait, but along a more Northern route, via the Strait of Malacca. This partly explains the prosperity of Singapore. Others also hoped to profit from the new route. Among them was the Atjeh Associatie, which operated a seaport and coal station at Sabang. This Association had been established in 1883 by the Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij (Factorij or Netherlands Trading Society) and De Lange & Co. of Batavia (Jakarta). Sabang had a natural harbour, which was relatively deep and well sheltered. The port was strategically situated on the island of Pulau Weh, which lay off the northern tip of Sumatra’s Atjeh province, along the shipping route to Singapore. The harbour was intended as a coal station for the Dutch navy, but later also served merchant vessels. Plans for further development were initiated with a view to reducing the dependence of Dutch and Colonial companies on the harbours of Penang and Singapore in the Straits Settlements. In addition, as initially intended, the harbour was used for the transfer of export goods from Northern Sumatra.

These activities were, however, slow in developing. This changed after Ernst Heldring visited the area during his travels through East Asia between 1897 and 1899. He immediately recognised the potential of Sabang as a harbour for the Dutch merchant and naval fleet, but also realised that a sizeable investment was required to improve port infrastructure. Upon returning to the Netherlands he published a book, “Oost AziĆ« en IndiĆ«” (“East Asia and Indonesia”), which contained a chapter on Sabang and its development potential. His report on this matter, which he addressed to the NHM and various other companies, contained convincing arguments favouring further development of the harbour.

Heldring’s father, Balthazar, held a seat on the NHM board of managing directors and was even appointed president in 1900. He greeted his son’s plans with enthusiasm. He saw to it that the languishing Atjeh Associatie was transformed into the N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia (Sabang Seaport and Coal Station of Batavia) in 1899. The project gained further momentum in 1902, when the ageing NHM director Hartsen was replaced by the energetic Van Aalst, who had first-hand knowledge of the situation and had already contributed significantly to the development of Sabang while stationed in Singapore. By 1903, he had arranged a bi-weekly service between the colonial harbour and the Netherlands, jointly operated by Stoomvaart Maatschappij Nederland (Netherlands Steamboat Company) and Rotterdamsche Lloyd. In addition, he arranged a vital capital injection for the company by bringing in NHM as majority shareholder. The harbour soon reaped the fruits of these efforts and began attracting Russian and Japanese naval vessels, as well as merchant ships sailing under foreign flags.

In 1909 NHM sold all property, docks, quays etc. on the island of Palu Weh to the Dutch State for 1.2 million guilders. The state subsequently let the property to Sabang on long lease. That same year the Naval Department transferred ownership of its 2,800 ton dock (constructed in 1898) to the company, with the proviso that all government vessels would henceforth be allowed to dock free of charge. In 1914 the NHM sold a percentage of its shares in Sabang to the Dutch State, earning profits to the sum of 947,000 guilders.

Despite these developments, Penang and Singapore remained the most important harbour cities for the North Coast of Sumatra. Sabang suffered severe damage during the Second World War, and in 1950, after Indonesia gained independence, the company initiated liquidation procedures. These were rounded off in 1959. Struggling with Tsunami and domestic problem of Aceh, Sabang still keep its beautiful natural heritage until now, for us, to enjoy them.
Now, Sabang appear as the one of the 11 best marine destination in Indonesia. Enjoy Sabang at Sabang Marine Festival.

Rubiah Ada di Hati Pecinta Diving!

gosumatera.com

Jika Anda berkunjung ke Sabang, pastikan Anda tak luput menulis Rubiah di dalam daftar kunjungan Anda!

Letak dan Sejarah Singkat
Pulau ini letaknya ada di seberang Pantai Iboih, di Sabang, dan konon katanya, Rubiah sendiri berasal dari nama Nyak Rubiah, salah satu keramat dari 44 keramat yang menjaga Kota Sabang.. Rubiah adalah tempat tinggal para penghuni laut seperti kepiting, anemon laut, clown fish, gurita, cumi-cumi, lion fish, dan terumbu karang yang alami.
Dahulu pada masa kerajaan Aceh, tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi transitnya para jemaah haji yang akan berlayar menuju mekkah. Tempat ini juga dahulunya pernah menjadi lokasi benteng pertahanan serdadu belanda dan Jepang pada masa perang dunia II. Jika anda berkunjung ke pulau ini, maka anda pasti akan menemukan bekas bangunan benteng tersebut.
Cara Menuju ke Pulau Rubiah
Jika ingin menuju kesini, sebaiknya Anda melalui jalur yang paling dekat yaitu melalui desa Iboih yang hanya berjarak sekitar  350 Meter dari pantai Iboih atau sekitar 23,5 Kilometer dari sebelah barat pulau Weh. Dari Iboih, Anda cukup menempuh 10 menit perjalanan naik boat mesin. Jika Anda dari Banda Aceh, maka Anda harus menuju Sabang terlebih dulu menggunakan ferry ataupun kapal besar dan kemudian dilanjutkan ke desa Iboih.
Perjalanan Panjang Terbayar Lunas
d
aries.id

Setelah sampai di pulau ini, capek dan perjalanan yang cukup panjang bisa terbayarkan lunas dengan panorama yang menakjubkan baik di atas maupun di bawah laut. Bagi Anda yang tidak sempat membawa peralatan diving, jangan khawatir. Anda bisa temukan banyak tempat yang menyewakan peralatan diving maupun snorkeling. Atau bagi yang tiak tertarik dengan diving, bisa juga berkeliling pulau dengan menyewa perahu yang bawahnya terdapat kotak kaca (glass bottom boat) untuk melihat panorama bawah laut.
Dan benar saja, pemandangan bawah lautnya sangat menakjubkan! Banyak ikan warna-warni yang menyambut kami, ataupun terumbu karang yang masih kokoh dengan indahnya. Sebuah pemandangan yang sangat berharga setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas pekerjaan dan hidup di kota besar. Inilah yang menyebabkan Rubiah mendapat julukan sebagai surganya kerajaan laut.
Terdapat Beragam Biota Laut
f
arraziibrahim.com

Tak jarang pengunjung akan melihat sekumpulan ikan laut yang berenang di sela-sela terumbu karang. Jenis ikan yang sering ditemukan disini antara lain seperti ikan Bendera, ikan Kepe-kepe, ikan Botana Biru, ikan Sersan, Kerapu, ikan Mayor, ikan Putri Bali dan masih banyak jenis ikan lainnya yang terdapat di pulau ini.
Selain itu juga terdapat berbagai macam jenis biota laut lainnya yang terdapat di pulau ini, seperti bintang laut, bunga lili, cumi-cumi dan berbagai macam terumbu karang. Terumbu karang yang yang terdapat disini mulai dari karang yang keras sampai yang lunak, dengan berbagai bentuk dan warna. Seperti karang meja dan karang tanduk. Benar-benar surga bagi para pecinta diving!
Setelah puas melihat beragam biota laut dan panorama, Anda pun bisa membeli cinderamata ataupun mencicip kuliner yang ada di sana dan menikmati desiran angin pantai. Sedap sekali, bukan?
Bagaimanapun, pastikan pulau Rubiah menjadi  salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika Anda berkunjung ke Sabang dan sekitarnya!

Belum ke Sabang! Bila Anda Belum Coba 9 Jajanan Kuliner Unik ini


Pulau Weh adalah pulau kecil yang kaya dengan keragaman penduduknya. Meskipun mayoritas masyarakat yang tinggal di pulau ini bersuku Aceh, tidak sedikit pula masyarakat yang bersuku Jawa, Cina, Batak, Padang dan Nias. Keragaman masyarakat tersebut menimbulkan keragaman budaya termasuk makanan. Ada beberapa makanan khas Sabang yang mana, bila Anda belum mencobanya, maka Anda belum benar-benar ke Sabang, diantaranya:

1. Mie Kocok dengan Kaldu Bening Penuh Citarasa
Mie kocok adalah mie yang direbus dalam air kaldu disajikan dengan tauge dan baso ikan yang dipotong kecil-kecil. Yang membuat mie ini istimewa adalah rasanya yang tiada duanya dan hanya dapat ditemukan di Sabang. Mie buatan sendiri yang sangat lembut ini direndam dalam kaldu bening yang penuh citarasa. Tauge yang dimasukkan ke dalam mie memberikan rasa renyah dan segar saat dikunyah. Bakso ikan gurih yang ditaburkan di atas memperkaya rasa mie kocok.
Untuk menikmati mie kocok ini anda akan disediakan cuka, kecap manis, kecap asin, dan sambal cabai. Tetapi cara paling pas untuk menikmati mie kocok adalah dengan mengabaikan bumbu-bumbu tambahan tersebut terlebih dahulu karena rasanya sudah cukup nikmat. Cicipi mie yang baru dihidangkan, kemudian anda tambahkan kecap atau sambal jika ada rasa yang dirasa kurang. Ada dua restoran yang menawarkan mie kocok di Kota Sabang, keduanya terletak di Jalan Perdagangan dan buka dari siang hingga malam hari.

2. Jack Cafe, Bakso Jack, dan Penyetan Nikmat
Tidak seperti warung kopi di Aceh pada umumnya yang menawarkan Kopi Aceh ditambah kue kecil, Jack Cafe lebih dikenal dengan makanannya. Yang paling digemari pengunjung adalah ayam penyet dan basonya. Ayam penyet yang lembut dan gurih ditambah tempe dan tahu dipadu dengan sambal merah dan sambal kecap merupakan santapan makan malam yang spesial. Baso Jack merupakan salah satu baso paling enak di Sabang. Baso daging sapi yang kenyal dan sangat terasa dagingnya di dalam kuah kaldu gurih namun tidak terlalu berlemak. Nikmati semangkuk baso di sore hari sambil melihat lalu-lalang perahu di laut tepat di seberang cafe. Selain baso dan ayam penyet, cafe yang berlokasi di Pantai Kasih ini juga menyediakan nasi goreng dan mie goreng. Cafe ini buka dari sore hingga malam setiap harinya.

3. Kunjungan Wajib Penggemar Kopi ke Warung Aci Rasa
Warung kopi yang paling terkenal di kalangan anak muda di Sabang ini terletak di persimpangan antara Jalan Teuku Umar dan Jalan Malahayati atau tepatnya di belakang Jalan Perdagangan. Berbeda dengan warung kopi di Pulau Weh pada umumnya yang menawarkan Kopi Sabang yang hitam, warung ini menjual Kopi Ulee Kareng yang sangat populer di Banda Aceh. Kopi ini mulai dirintis di tahun 1960-an di Ulee Kareng Banda Aceh, tetapi baru tahun 1990-an booming karena mahasiswa dan pemuda mulai mengenal dan mempromosikan kopi ini dari mulut ke mulut. Saat ini, kopi Ulee Kareng digunakan di hampir semua warung kopi di Banda Aceh dan Aceh Besar serta di beberapa daerah di Aceh.
Kopi yang menjadi hits di kalangan pemuda ini membuat Warung Kopi Aci Rasa selalu penuh dengan pengunjung setiap sore hingga tengah malam. Selain untuk menikmati kopi dan mengobrol, banyak juga konsumen yang datang untuk layanan wi-finya yang tergolong cepat. Di sini anda dapat memesan kopi sambil browsing selama yang anda inginkan. Di pelataran Aci Rasa ada juga penjual makanan seperti soto, nasi goreng, ayam bakar, martabak dan nasi bebek. Soto Aceh sedikit berbeda dengan soto pada umumnya karena menggunakan santan dan aroma rempah-rempah membuat soto ini unik. Tetapi yang kerap dicari pengunjung warung ini adalah nasi bebek masak Acehnya. Daging bebek dimasak dalam kuah kari dalam waktu yang lama sehingga kuah menjadi kental dan daging bebek menjadi empuk. Daging bebek yang keras dan berlemak sangat cocok dimasak dengan cara ini karena semua rasanya akan keluar dan bercampur dengan kuah.
Jangan sampai melewati kesempatan mencoba rasa Kopi Ulee Kareng jika ini kali pertama anda ke Aceh karena dijamin berbeda dengan semua jenis kopi yang pernah anda rasa. Coba juga "sanger" yaitu kopi yang diseduh di atas sedikit susu. Warung Kopi Aci Rasa ini buka setiap hari dari pagi hingga tengah malam.

4. Nasi Goreng Seafood Segar Hanya Milik Nasi Goreng Montana
Montana adalah nama sebuah hotel yang ada di Jalan O. Surapati Sabang. Di lantai bawahnya, hotel ini memiliki restoran yang menawarkan berbagai menu nasi dan mie. Yang paling menarik dari menu yang tersedia di restoran ini adalah nasi goreng seafoodnya. Nasi goreng dimasak dengan cara udang dan cumi dipotong-potong berbentuk cincin lalu ditumis dengan bumbu rahasia restoran kemudian ditambahkan nasi dengan sedikit campuran jagung dan kacang polong. Nasi goreng ini menggunakan udang dan cumi-cumi segar hasil tangkapan nelayan lokal sehingga hanya dengan sedikit bumbu telah terasa nikmat.


5. Warung Kopi Bikin Sendiri Yang Super Laris Milik Balee Pasie
Secara harfiah balee pasie dalam bahasa Aceh berarti pinggir pantai tempat bersandarnya boat-boat nelayan. Di pantai Ie Meulee ini ada warung kopi yang dikenal dengan sebutan Balee Pasie. Ini adalah warung kopi khusus bagi hardcore coffee lovers dimana tidak ada tv, internet, bahkan pelayan yang membawakan anda kue. Pelayan hanya membawakan kopi, sisanya anda layani diri sendiri.
Meskipun tanpa fasilitas macam-macam, kedai kopi ini selalu ramai oleh pengunjung yang sarapan sejak pukul 6 pagi. Sangking ramainya, kedai ini bisa menjual seribu hingga dua ribu kue setiap harinya. Sebagian besar pelanggan warung ini adalah pelaut, masyarakat Ie Meulee dan pegawai kantor di sekitarnya. Menurut beberapa langganan tetap di sini, kopi Balee Pasie sangat enak dan tiada duanya di Sabang. Begitu enaknya, konsumen bisa menghabiskan lebih dari segelas kopi dalam sekali sarapan yang jarang sekali terjadi di warung kopi lain.
Perpaduan antara kopi dan pulut (ketan bakar) hangat adalah menu favorit sebagian besar pelanggan. Sekitar 200-an pulut ludes dalam hitungan menit. Jika anda tidak suka ketan, ada juga nasi gurih dan mie yang sudah dibungkus. Sempatkan sarapan di Balee Pasie yang sangat dekat dengan Sumur Tiga jika anda ke Sabang. Kedai ini buka mulai habis subuh hingga pukul 9-10 malam.
 

6. Harus Coba Daging Lembut Sate Gurita!
Kalau ini pertama kalinya anda mendengar sate gurita maka percayalah hidup anda belum lengkap sebelum mencoba sate ini. Sebagimana namanya, sate gurita dibuat dari kaki gurita yang dipotong seukuran sate. Gurita biasanya menjadi kenyal bila dimasak atau dibakar tetapi sate gurita sangat empuk dan penuh citarasa karena telah diungkep dengan bumbu rempah sebelumnya.
Jika sate kambing biasanya cenderung keras dan sate ayam sering hambar, sate gurita Sabang sangat lembut dan enak apalagi didampingi bumbu dan lontong. Anda dapat memilih bumbu kacang atau bumbu padang sebagai kuahnya. Bumbu kacang yang merupakan standar nasional untuk bumbu sate tidak perlu diragukan lagi kenikmatannya. Tetapi jika anda penggemar masakan padang, tidak salahnya mencoba bumbu padang yang sedikit pedas ini.
Di Kota Sabang ada 3 tempat yang menjual sate gurita yaitu di Pusat Jajanan Selera Rakyat (Pujasera) di Pusat Kota Sabang, Taman Kuliner di Kebun Merica, dan di Baso Bang Wan di Sabang Fair yang semuanya mulai buka dari sore hingga malam hari.

7. Kaldu Bening Penuh Rasa a la Mie pangsit Dynasty
Mie Pangsit Dinasty terletak di Jalan O. Suropati tepat di depan penjara Sabang. Restoran yang baru-baru ini juga mulai menjual baso, masih menjadi tujuan utama orang Sabang yang ingin makan mie ayam. Lalu apa bedanya Mie Pangsit Dynasty dengan mie pangsit lainnya? Hal pertama yang langsung terlihat ketika menerima pesanan anda adalah kebeningan kuahnya. Kuah yang digunakan dalam mie begitu bening tetapi kaya aroma ayamnya. Selanjutnya mie yang digunakan adalah mie buatan sendiri yang padat dan lembut. Mie ini menyerap rasa kaldu dan tidak keras sebagaimana mie buatan pabrik umumnya.
Elemen terakhir yang mengangkat level mie ini adalah ayamnya. Potongan dadu ayam yang dimasukkan ke dalam mie dipersiapkan begitu seksama dengan memisahkan semua tulangnya sehingga anda tidak perlu was-was saat menikmatinya. Tidak seperti mie ayam lain, bumbu di mie ayam ini disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat sehingga tidak terlalu manis. Selain mie ayam, warung yang buka dari sore hingga malam ini juga menyediakan mi pangsit ikan yang bisa menjadi opsi jika anda bukan penikmat mie ayam.


8. Mie Khas Aceh milik Mie Aceh Bang Jeunib
Mie pangsit, mie kocok, mie ayam, mie so dan lain-lain. Mie memang sangat digemari di Sabang yang sebagian besarnya dipopulerkan oleh penduduk keturunan Cina yang tinggal di seputaran Jalan Perdagangan. Tetapi, Mie Aceh tidak kalah enaknya dibanding mie-mie tersebut. Saat ini warung Mie Aceh sudah mulai terlihat di kota-kota besar seperti Medan, Bandung, dan Jakarta dan menjadi favorit masyarakat lokal di sana. Mie Aceh adalah mie seukuran spagetti yang dimasak menggunakan bumbu giling khusus sehingga menghasilkan mie yang memiliki rasa khas Aceh. Mie Aceh Bang Jeunib, nama sang koki, juga menggunakan potongan kecil daging bersama tomat, tauge, dan kol untuk memperkaya rasa produk akhirnya.
Ada tiga jenis mie yang dijual yaitu mie goreng, goreng basah (tumis) dan rebus. Mie goreng dan tumis lebih popular dibandingkan yang rebus. Jika anda penggemar indomie coba pesan indomie rebus yang dimasak goreng basah, nikmati selagi panas rasa indomie yang pasti mengalahkan semua mie instant yang pernah anda makan sebelumnya. Secangkir kopi Ulee Kareng kental adalah pasangan yang pas untuk mie anda. Kopi dan minuman lainnya dapat dipesan dari warung kopi dimana Bang Jeunib berjualan yaitu di Ie Meulee tepatnya sebelum Balee Pasie. Mie tersedia dari pagi hingga malam hari, tetapi saat ramai pembeli Bang Jeunib sering tutup sore hari karena kehabisan mie.

9. Coba Citarasa Bule Aceh di Burger Taman Ria
Suka masakan bule? Coba kunjungi burger murah meriah di Jalan Teuku Umar tepat di bawah Taman Ria Sabang yang menjual burger khusus takeaway. Kedai burger kaki lima ini menawarkan burger daging dan telur spesial yang merupakan gabungan masakan Eropa dan Indonesia karena menggunakan bahan-bahan seperti tomat, selada, timun, keju, saus dan abon didalam burgernya. Meskipun memasukkan abon ke dalam burger terdengar ganjil, tetapi saat dimakan abon menambah kuat rasa burger secara keseluruhan sehingga tidak didominasi oleh pedasnya saus. Silahkan mencoba burger telurnya bagi anda yang belum familiar. Burger merupakan makanan yang tepat jika anda terburu-buru dan harus makan di jalan. Selain itu juga tersedia donat aneka rasa seperti keju, coklat, strawberry, dan bluberry.

5 Hal Unik Mengenai Tugu Nol Kilometer Sabang




Hal Unik 1 : Penanda Geografis yang unik.
Tugu Nol Kilometer yang menjadi simbol pemersatu Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua ini merupakan sebuah nagunan setinggi 22,5 meter dengan bentuk lingkaran berjeruji. Di puncak Tugu yang bercat putih dan di bagian atas menyemit seperti mata bor ini, terdapat patung burung garuda yang sedang menggengam angka nol bersama dengan prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya.

Hal Unik 2 : Tidak terpancang di garis terluar sisi Barat Indonesia.
Secara teknis, sebetulnya masih ada pulau yang terletak di sisi paling barat Indonesia, yakni Pulau Lhee Blah yang merupakan sebuah pulau kecil di selah barat Pulau Breu.

Hal Unik 3 : Memiliki Kembaran.
Tugu Nol Kilometer memiliki kembaran yang bernama Tugu Kembaran Sabang Merauke. Tugu yang terdapat di Distrik Sota, Kabupaten Merauke ini berbentuk mirip sekali dengan Tugu Nol Kilometer di Sabang. Akan tetapi, yang berbeda hanyalah tulisan di prasasti, yakni tulisan yang diambil dari lirik lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” ciptaan L. Manik.

Hal Unik 4 : Berbatasan dengan 6 negara tetangga sekaligus.
Titik Kilometer Nol ini berbatasan dengan 6 negara tetangga yakni di sebelah Timur berbatasan dengan Malaysia dan Thailand dengan laut Andaman, sedangkan di sebelah Timur Laut berbatasan dengan wilayah Myanmar. Di utara Titik Nol Kilometer ini berbatasan dengan Bangladesh, India serta Srilangka.

Hal Unik 5 : Presiden Jokowi merupakan presiden pertama yang mencapai Titik Nol Kilometer di Indonesia ini

Cerita Asal Muasal Sabang dan Pulau Weh

Tentunya Anda tak asing dengan lagu berjudul "Dari Sabang Sampai Merauke" karangan R. Suharjo yang merupakan salah satu lagu nasional. Namun, pernahkah Anda mencari tahu mengenai Sabang itu sendiri? Berikut kami berikan sedikit informasi tentang asal muaal Sabang.
Nama Sabang sendiri, berasal dari bahasa Aceh ”Saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung.
Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa arab, yaitu “Shabag” yang artinya gunung meletus. Dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.
Singkat cerita tentang legenda Sabang, menurut sebuah legenda menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.
Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut. Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.
Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.
Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa Aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, yakni penyatuan daratan sabang dengan daratan Ulee Lheue.
Ulee Lheue di Banda Aceh berasal dari kata Ulee Lheueh (“Lheueh”; yang terlepas). Syahdan, bahwa letusan Gunung berapilah yang menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus. Dalam Versi lain, Pulau Weh juga terkenal dengan pulau “We” tanpa h. Ada yang berasumsi jika pulau weh diberi nama pulau “we” karena bentuknya seperti huruf “W”.
Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun.
Sabang juga kaya akan peninggalan sejarah, sehingga Sabang sering disebut sebagai Pulau Seribu Benteng . Pada saat masa kolonial penjajahan Jepang mulai pada saat terjadi perang Dunia ke II , mereka mulai membangun benteng – benteng pertahanan di pulau ini , sehingga ketika sering menjumpainya ketika sedang melakukan perjalanan di pulau ini . Selain pulau peninggalan sejarah lainnya yaitu berupa Komplek Makam Belanda , Makam – makam  keramat yang tersebar di daratan Pulau Sabang , dan juga meriam – meriam peninggalan para Kolonial.
Di samping itu, jika Anda berkesempatan mengunjungi Sabang, Anda juga dapat menikmati keindahan bawah lautnya yang menakjubkan. Plus berwisata kuliner dan membeli beberapa suvenir khas untuk dibawa pulang.
Ayo ke Sabang!
ee
http://assets.kompas.com
rr
bpks.go.id
e
http://farm8.staticflickr.com
source: faktaguide

5 Fakta yang Akan Anda Jumpai di Pantai Iboih

Siapa bilang di Indonesia Barat tak ada pantai yang aduhai? Jika Anda belum berkunjung ke pantai Iboih, bisa jadi Anda akan berkata demikian. Agar makin penasaran, tilik dahulu 5 fakta menarik tentang Pulau Iboih yang semakin membuat Anda ingin menabung lebih ketat dan segera bisa pergi kesana!
1. Ada “Perahu Layang” di pantai ini
e
Dari kejauhan, Anda akan seperti melihat banyak perahu yang melayang di tengah lautan. Hal ini dikarenakan bening dan jernihnya air dapat membuat perahu yang ada di sekitar pantai yang disebut juga dengan Teupin Layeu ini tampak melayang. Pantai ini seolah dapat memberikan perspektif baru kepada mata manusia ketika memandang perahu di lautan luas.
2. Ada 'taman firdaus' yang sejuk

Pantai ini juga dikelilingi dengan hutan hujan tropis yang bertahtakan kekayaan flora dan fauna Indonesia. Inilah yang kemudian yang memanjakan para wisatawan yang datang berkunjung, karena mendapatkan suasana yang sejuk, dan pengalaman menikmati alam yang menakjubkan. Tak hanya itu, pohon-pohon hutan tropis yang menjulang sekaligus memayungi pasir pantai digunakan sebagai tambatan temali yang digantungkan. Wisatawan pun bermain bergelantung, berayun, dan jatuh di air tenang pantai Iboih!
3. Pantai yang `selamat` dari Tsunami
Bila diibaratkan dengan bentuk tapal kuda, letak Iboih berada di lengkungan sisi kiri dan tersembunyi, membuat Iboih 'selamat' dari bencana tsunami yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004 silam. Meskipun ada beberapa bagian yang dihantam tsunami, namun secara keseluruhan tidak begitu berdampak.
4. Ada beberapa tempat kursus menyelam
Di seputar pantai Iboih, Anda akan menemukan beberapa dive centre yang menawarkan ragam paket kursus menyelam dengan harga yang cukup terjangkau. Misalnya adalah Rubiah Tirta Divers dan Scuba Weh, yang juga menawarkan paket akomodasi dan juga berbagai restauran.
5. Dari Iboih bisa nikmati 'Long Beach'
d
v
Iboih cukup dekat dengan beberapa pantai lainnya termasuk juga Long Beach. Hanya dengan berjalan kaki dan menempuh jarak 4 km atau sekitar 30 menit, Anda akan mendapati indahnya panorama di Long Beach! Kalau merasa capek berjalan dan kemudian lapar, Anda bisa mencoba bersantap di Italian Restaurant yang ada di sana.

10 FAKTA Sejarah Panjang Berdirinya Badan Pengembangan Kawasan Sabang



FAKTA 1 : BPKS dibangun sejak 134 tahun yang lalu. 
BPKS tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui proses yang panjang dan didukung oleh payung hukum yang kuat. Pada mulanya, BPKS yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda ini, mempunyai kegiatan utama yakni pengisian air dan batu bara ke kapal yang disebut “Kolen Station.”

FAKTA 2 : Pernah menjadi pelabuhan alam untuk pelayaran Intenational.
Pada era zaman Belanda, Pelabuhan Sabang sudah menaruh prestasi dan memiliki peran yang sangat penting yakni mendukung perdagangan komoditi hasil alam Aceh yang diekspor ke Negara-negara eropa. Meskipun begitu, kejayaanya berakhir pada saat perang dunia ke-2 dimana Jepang menguasai Asia Timur Raya di tahun 1942 dan mengalami kehancuran fisik sehingga Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup.

FAKTA 3 : Sabang sebagai Basis Pertahanan Maritim Republik Indonesia.
Tahun 1950 pemerintah menjadikan Sabang sebagai Basis Pertahanan Maritim Republik Indonesia dan sebagai Pelabuhan Bebas dengan Penetapan Presiden No. 10 Tahun 1963 hingga Kotapraja Sabang pun dibentuk dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1965.

FAKTA 4 : Free port Sabang ditutup untuk kedua kalinya.
Tahun 1970 status Free Port Sabang ditingkatkan dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1970 menjadi Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas untuk masa 30 tahun. Namun baru berjalan 15 tahun, Free Port Sabang kembali ditutup yang ke dua kalinya tahun 1985 sementara pemerintah pun membuka Bounded Zone Batam. Sejak itu kehidupan ekonomi Sabang kembali stagnan dan sepi layaknya sebuah kota terpencil dimanapun di dunia. Ribuan masyarakat yang menggantungkan hidupnya di pelabuhan menjadi miskin, pengangguran dan akhirnya melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah mainland di daratan Aceh. Pertumbuhan ekonomi di Aceh pun merosot tajam secara keseluruhan.

FAKTA 5 : Mulai diperhitungkan kembali.
Posisi Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas mulai diperhitungkan kembali tahun 1993, ditandai dengan dibentuknya Kerjasama Ekonomi Regional Growth Triangle Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT), dilanjutkan dengan kegiatan Jambore Iptek BPPT tahun 1997, dan pada tahun 1998 kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang diresmikan oleh Presiden BJ. Habibie bersama KAPET lainnya dengan Keppres No. 171 tanggal 26 September 1998.

FAKTA 6 : Dijadikan sebagai Pusat Pertumbuhan Baru (New Growth Center).
Status Sabang kembali ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di masa pemerintahan presiden K.H. Abdurrahman Wahid melalui mandat hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 tahun 2000. Kemudian dalam sidang paripurna DPR RI tanggal 20 Nopember 2000 penetapan statusnya secara hukum diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000. Keputusan ini dilakukan pemerintah pusat agar Kawasan Sabang di ujung barat dapat dijadikan sebagai Pusat Pertumbuhan Baru (New Growth Centre).

FAKTA 7 : Berada dalam posisi yang sangat strategis.
Posisi Sabang dalam lingkup Asean terletak pada kawasan strategis karena berada pada jalur lalu lintas pelayaran (International Shipping Line) dan penerbangan internasional menjadikan posisinya begitu sentral sebagai pintu gerbang arus masuk investasi, barang dan jasa dari dalam dan luar negeri. Didukung juga dengan pembangunan Terusan Kra (Canal Kra) di Thailand yang hampir selesai, telah memposisikan Sabang sebagai Buffer Zone bagi kapal-kapal container atau kapal-kapal kargo lainnya yang melalui Selat Malaka dan Samudera Hindia.

FAKTA 8 : Daerah Bebas Pajak.
Dengan adanya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang baru disahkan pada tanggal 11 Juli 2006, maka semakin bertambah kuatlah untuk menjadikan Kawasan Sabang sebagai diyakni sebagai suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan RI yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari (a) tata niaga; (b) pengenaan bea masuk; (c) pajak pertambahan nilai; dan (d) pajak penjualan atas barang mewah.

FAKTA 9 : Semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional.  
Dalam undang-Undang yang sama disebutkan bahwa Pemerintah bersama Pemerintah Aceh mengembangkan Kawasan Perdagangan Sabang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional melalui kegiatan di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, trasnportasi, maritim dan pariwisata, perkebunan, perikanan, dan industri dari kawasan sekitar.

FAKTA 10 : Pelabuhan Sabang sebagai salah satu Kawasan Niaga dan Wisata Terkemuka Dunia.
Pengembangan Kawasan Sabang juga diarahkan untuk kegiatan perdagangan dan investasi serta kelancaran arus barang dan jasa kecuali jenis barang dan jasa yang secara tegas dilarang oleh undang-undang. Ke depan sangatlah tepat bila Pelabuhan Bebas Sabang Sebagai salah satu Kawasan Niaga dan Wisata Terkemuka Dunia yang dimulai dari kawasan Asia Selatan yang sangat berdekatan dengan Kawasan Sabang, dan juga berada di persimpangan jalur distribusi barang dari Benua Eropa dan Afrika menuju Benua Amerika dan Australia.

Sudah Ada Penerbangan Phuket-Langkawi-Sabang-Banda Aceh


Pembukaan jalur laut dan udara antara Aceh, Malaysia, dan Thailand, menjadi isu sentral dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-26 Asean yang berlangsung di Kuala Lumpur, Senin (27/4), maupun dalam Pertemuan Ke-9 lndonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (lMT-GT) di Langkawi, Keudah, Malaysia, Selasa (28/4).

Konkretnya, para delegasi tiga negara yang tergabung dalam IMT-GT itu menyepakati akan dibuka khusus jalur penerbangan Phuket-Langkawi-Sabang-Banda Aceh yang diupayakan segera terealisasi.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung Langkawi Convention itu juga digagas maritime connectivity (hubungan laut) antara Ranong-Phuket-Sabang/Malahayati, Aceh Besar dan Krueng Geukueh-Penang/Port Klang. Diawali dengan dibukanya jalur regular pelayaran dari Krueng Geukueh, Aceh Utara-Port Klang serta merangsang singgahnya kapal-kapal pesiar di Sabang, Phuket, Langkawi, dan Penang, maupun hubungan Marina Yatch Sabang-Phuket.

Sejalan dengan itu, juga dibahas wacana untuk membuka jalur kapal feri melalui Krueng Geukueh-Penang, kapal kargo dari Krueng Geukueh ke Penang, dan kemungkinan berlabuhnya kapal-kapal pesiar secara rutin pada pelabuhan di jalur Sabang-Phuket-Langkawi-Penang.
Selain itu, even tahunan Sabang International Marine Festival yang dijadwalkan pada Desember 2015 disepakati untuk dimasukkan ke dalam kalender kerja sama IMT-GT guna menunjang potensi investasi di bidang pariwisata Sabang. “Festival ini digagas oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) dan akan dimulai Oktober tahun ini sebagai even pariwisata tahunan andalan Aceh,” kata Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah yang menghubungi Serambi dari Langkawi, Malaysia, Selasa sore kemarin.

Dari Aceh, Gubernur Zaini hadir dalam forum itu didampingi Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh, Ir Iskandar MSc dan Kepala Bidang Promosi Bainprom Aceh, Ir Netty Muharni MURP.
Di level kepala negara, KTT IMT-GT itu dihadiri Perdana Menteri Malaysia, Yang Amat Berhormat Dato’ Sri Mohd Najib Tun Razak, Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-Ocha, dan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla. Sedangkan saat KTT Ke-26 Asean berlangsung di Kuala Lumpur, dari Indonesia hadir Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri terkait.
Menurut Gubernur Zaini, beberapa program prioritas lainnya yang dibahas dalam KTT Asean itu adalah pembangunan jalan tol trans-Sumatera Bakauheni-Banda Aceh, pengembangan beberapa pelabuhan di Sumatera, termasuk Aceh, transmisi listrik Riau-Malaka, serta beberapa proyek kerja sama penting lainnya di bidang infrastruktur, agroindustri, pariwisata, sumber daya manusia, dan halal product.

Sedangkan dalam kerja sama IMT-GT, ada dua inisiasi dari Pemerintah Aceh yang dikemukakan, yakni peningkatan dan pengembangan konektivitas jalur laut dan udara (air connectivity and maritime connectivity) antara Aceh, Malaysia, dan Thailand.
Dalam hal jalur udara, kata Zaini Abdullah, Pemerintah Aceh sudah mengupayakan dan terus berusaha mewujudkan pembukaan jalur penerbangan baru dari Phuket-Langkawi-Sabang-Banda Aceh. Sejauh ini, sudah ada kemajuan dengan adanya penerbangan langsung Banda Aceh-Penang dengan Firefly, penerbangan langsung Banda Aceh-Kuala Lumpur dengan AirAsia, connecting flight dari Medan-ke Sabang, dan sedang dibahas pula rencana pembukaan jalur udara Sabang-Penang.
Untuk mewujudkan hubungan udara lebih lanjut, kata Gubernur Zaini, perlu pembahasan agar Bandara Internasional Sabang dimasukkan dalam destinasi rute penerbangan internasional kerja sama IMT-GT. Juga diperlukan keterlibatan lebih lanjut dari pihak penerbangan untuk menambah jalur penerbangan, melibatkan biro perjalanan, hotel, dan kerja sama dengan para pelaku wisata. “Kita berharap banyak, dunia usaha dari tiga negara ini ikut terlibat,” kata Gubernur Zaini.

Di samping dua inisiatif baru tersebut, juga terdapat banyak potensi kerja sama investasi pada sektor agroindustri. Di antaranya investasi pada kebun sawit oleh Nafasindo, perusahaan Malaysia di Singkil, perdagangan organic horticulture dari Aceh ke Malaysia via Krueng Geukueh, serta pendirian agrobazar Malaysia di Banda Aceh yang sedang dalam proses pengurusan izin.
Gubernur Zaini optimis, dengan besarnya dukungan untuk peningkatan konektivitas laut dan udara Aceh dengan daerah sekitarnya, akan berdampak besar terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi dan investasi di Aceh. Kepala Bainprom Aceh, Iskandar berharap semoga pertemuan IMT-GT ke-9 ini dapat meningkatkan hubungan antarnegara, kerja sama Aceh dengan Malaysia dan Thailand, mendorong kerja sama antarpengusaha lokal dengan Malaysia dan Thailand, serta untuk memberdayakan SDM karena pada dasarnya tujuan IM-TGT itu adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di tiga negara anggota.

Artikel yang sama terbit di Serambi Indonesia:
http://aceh.tribunnews.com/2015/04/29/akan-ada-penerbangan-phuket-langkawi-sabang-banda-aceh?page=3